Bismillahirrahmanirrahim...
Data jualan 15 judul terlaris novel cinta Islami PTS bagi tahun 2010:
1. Nyanyi Sunyi (4,052 unit)
2. Kala Cinta Dan Wahyu Bersatu (3,288 unit)
3. Punya Cinta Ramadan (3,050 unit)
4. Bara Cinta Canberra (2,836 unit)
5. Wasilah Cinta Weera (2,779 unit)
6. Kasih Seharum Manisah (2,718 unit)
7. Ku Seru Nur Kasih (2,466 unit)
8. Tuhan Masih Mencintaiku (2,226 unit)
9. Salju Sakinah (2,104 unit)
10. Aku Bukan Malaikat (2,001 unit)
11. Biarawati Qaseh Puteri (1,830 unit)
12. Qasidah Untuk Kekasih (1,680 unit)
13. Warkah Cinta Berbau Syurga (1,561 unit)
14. Menunggu Cinta Tuhan (1,211 unit)
15. Doa Insan Berkasih (1,066 unit)
Karena kau menulis..., suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh,jauh di kemudian hari..- Pak Pramoedya Ananta Toer-
Tuesday, February 15, 2011
Friday, January 21, 2011
Esok Belum Tentu Milik Kita
Bismillahirrahnairrahim...

Langsung saya teringat kata-kata Saidina Umar.
Dalam Al-Quran banyak sekali Allah menyebut kebanyakan manusia yang telah mati minta untuk dihidupkan kembali agar mereka boleh berbuat amal sebanyak-banyaknya.
Ya Allah…,
“Saya belum dapat hidayah,”
“belum masanya untuk saya berubah,”
Antara frasa-frasa yang pasti meluncur keluar dari dua ulas bibir mereka yang menerima teguran.
Hakikatnya, hidayah itu perlu dikejar dan dicari. Bukan sekadar dinanti.
Namun tidak dinafikan, mereka yang menanti hidayah juga sebenarnya akan memperolehnya. Apa tidaknya, kebanyakan mereka yang meninggal dunia mendapat hidayah di dalam kubur. Oleh sebab itu, mereka memohon kepada Allah untuk dihantar semula ke dunia dan berjanji sesungguh hati untuk beramal.
Lebih kurang seminggu lepas, seorang pelajar perubatan tahun tiga di Iskandariah meninggal dunia akibat keracunan gas pemanas air.
Sama ada kita suka atau tidak. Bersedia atau tidak. Ajal tetap akan datang menjemput kita apabila tiba masanya. Tidak lewat walau sesaat. Tidak cepat walau sekadar satu kerdipan mata.
Sebagaimana malaikat Izrail tidak pernah lalai menjenguk dan mengintai kita setiap hari, sekerap itulah seharusnya kita mengingati pertemuan kita dengannya.
“Asyik-asyik sebut pasal mati! Tak ada benda lainkah?”
Mempercayai akhirat bukan bererti meremehkan dunia. Ujar Dr. Yusuf Al-Qardawi.
Andai terlintas dalam fikiran untuk berbuat baik, maka jangan bertangguh lagi. Andai terdetik untuk berubah jangan dinanti-nantikan lagi. Kerana esok belum tentu milik kita.

“Kita dilahirkan dalam keadaan kita tidur. Kita hidup dalam keadaan kita bermimpi. Dan kita mati sebelum sempat kita bangun..”
Kata-kata Jalaluddin Rumi ini menyentap tali jantung saya.
Kata-kata Jalaluddin Rumi ini menyentap tali jantung saya.
Langsung saya teringat kata-kata Saidina Umar.
“Kebanyakan manusia tidur di atas muka bumi ini dan hanya akan terjaga setelah mereka mati,”
Barangkali sebab itulah banyak manusia yang telah mati meminta kepada Allah untuk hidup semula. Agar mereka boleh beramal sebanyak-banyaknya.
Barangkali sebab itulah banyak manusia yang telah mati meminta kepada Allah untuk hidup semula. Agar mereka boleh beramal sebanyak-banyaknya.
Dalam Al-Quran banyak sekali Allah menyebut kebanyakan manusia yang telah mati minta untuk dihidupkan kembali agar mereka boleh berbuat amal sebanyak-banyaknya.
Ya Allah…,
“Saya belum dapat hidayah,”
“belum masanya untuk saya berubah,”
Antara frasa-frasa yang pasti meluncur keluar dari dua ulas bibir mereka yang menerima teguran.
Hakikatnya, hidayah itu perlu dikejar dan dicari. Bukan sekadar dinanti.
Namun tidak dinafikan, mereka yang menanti hidayah juga sebenarnya akan memperolehnya. Apa tidaknya, kebanyakan mereka yang meninggal dunia mendapat hidayah di dalam kubur. Oleh sebab itu, mereka memohon kepada Allah untuk dihantar semula ke dunia dan berjanji sesungguh hati untuk beramal.
Lebih kurang seminggu lepas, seorang pelajar perubatan tahun tiga di Iskandariah meninggal dunia akibat keracunan gas pemanas air.
Sama ada kita suka atau tidak. Bersedia atau tidak. Ajal tetap akan datang menjemput kita apabila tiba masanya. Tidak lewat walau sesaat. Tidak cepat walau sekadar satu kerdipan mata.
Sebagaimana malaikat Izrail tidak pernah lalai menjenguk dan mengintai kita setiap hari, sekerap itulah seharusnya kita mengingati pertemuan kita dengannya.
“Asyik-asyik sebut pasal mati! Tak ada benda lainkah?”
Mempercayai akhirat bukan bererti meremehkan dunia. Ujar Dr. Yusuf Al-Qardawi.
Andai terlintas dalam fikiran untuk berbuat baik, maka jangan bertangguh lagi. Andai terdetik untuk berubah jangan dinanti-nantikan lagi. Kerana esok belum tentu milik kita.
Wednesday, January 05, 2011
I Know I Love You Before I Meet You
Bismillahirrahmanirrahim....
Lagu
I know I love you before I meet you,
Baginda berkata...
“Ya, para malaikat itu mulia, mereka dekat dengan Allah... Mereka sentiasa bertasbih dan beribadat kepada Allah... tentulah mereka mulia... tapi bukan itu yang ku maksudkan”
Lalu kemudian para sahabat kembali terdiam...
Tiba-tiba salah seorang sahabat kembali berkata...
“Ya Rasulallah, tentulah para nabi...merekalah yang mulia itu”
Nabi Muhammad s.a.w tersenyum...baginda berkata...
“Para nabi itu mulia...mereka adalah utusan Allah di muka bumi ini... bagaimana mungkin mereka tidak mulia...mereka mulia... tapi ada lagi yang lainnya”
Para sahabat terdiam...tertanya...siapa lagi orang yang mulia...
Hingga kemudian salah seorang sahabat berkata...
“Ya Rasulallah...apakah kami sahabatmu ya Rasulallah...apakah kami yang mulia itu ya rasul?”
Baginda memandang wajah sahabatnya satu persatu...baginda tersenyum melihat para sahabat...
LaguI know I love you before I meet you,
I think I dreamed you into life,
I know Ilove you before I meet you,
I have been waiting all my life
Rupa-rupanya satu artikel yang saya baca bertajuk " I Love You Before I Meet You " ini diambil dari sebuah lagu dendangan Savage Garden.
bait-bait lagu ini langsung mengingatkan saya pada satu firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 26
"Perempuan-perempuan yang jahat untuk lelaki-lelaki yang jahat, lelaki-lelaki yang jahat untuk perempuan-perempuan yang jahat dan sebaliknya perempuan-perempuan yang baik untuk lelaki-lelaki yang baik, lelaki-lelaki yang baik untuk perempuan yang baik. Mereka yang baik itu bersih daripada tuduhan buruk yang dikatakan oleh orang-orang yang jahatmereka yang baik itu akan beroleh pengampunan dari Allah dan pengurniaan yang mulia..,"
Ibrah Cinta
Ketika mendengar lagu ini saya tertanya-tanya bagaimana mungkin kita menunjukkan kasih sayang kepada seseorang yang belum pernah kita jumpa dan kenali? Tambah menguatkan lagi rasa kemusykilan saya apabila mengingatkan katap eptah melayu tak kenal maka tak cinta.
Rasa mustahil sekali untuk melakukan perkara sedemikian rupa.
Namun percaya atau tidak telah ada dalam sejarah kehidupan manusia yang melakukannya.
Dia yang saya maksudkan adalah baginda Rasulullah SAW.
Dia yang saya maksudkan adalah baginda Rasulullah SAW.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan...
Ketika itu baginda Nabi Muhammad s.a.w sedang duduk berkumpul bersama-sama para sahabat...
Di antara sahabat-sahabat termasuklah Saidina Abu Bakar, Saidana Omar, Saidina Uthman, Saidina Ali dan yang lain...
Lalu kemudian baginda bertanya kepada sahabat-sahabatnya...
“Wahai sahabatku, tahukah kalian...Siapakah hamba Allah yang mulia di sisi Allah?”
Para sahabat terdiam... lalu ada salah seorang sahabat berkata...
“Para malaikat ya Rasulallah...merekalah yang mulia”
Di antara sahabat-sahabat termasuklah Saidina Abu Bakar, Saidana Omar, Saidina Uthman, Saidina Ali dan yang lain...
Lalu kemudian baginda bertanya kepada sahabat-sahabatnya...
“Wahai sahabatku, tahukah kalian...Siapakah hamba Allah yang mulia di sisi Allah?”
Para sahabat terdiam... lalu ada salah seorang sahabat berkata...
“Para malaikat ya Rasulallah...merekalah yang mulia”
Baginda berkata...
“Ya, para malaikat itu mulia, mereka dekat dengan Allah... Mereka sentiasa bertasbih dan beribadat kepada Allah... tentulah mereka mulia... tapi bukan itu yang ku maksudkan”
Lalu kemudian para sahabat kembali terdiam...
Tiba-tiba salah seorang sahabat kembali berkata...
“Ya Rasulallah, tentulah para nabi...merekalah yang mulia itu”
Nabi Muhammad s.a.w tersenyum...baginda berkata...
“Para nabi itu mulia...mereka adalah utusan Allah di muka bumi ini... bagaimana mungkin mereka tidak mulia...mereka mulia... tapi ada lagi yang lainnya”
Para sahabat terdiam...tertanya...siapa lagi orang yang mulia...
Hingga kemudian salah seorang sahabat berkata...
“Ya Rasulallah...apakah kami sahabatmu ya Rasulallah...apakah kami yang mulia itu ya rasul?”
Baginda memandang wajah sahabatnya satu persatu...baginda tersenyum melihat para sahabat...
Baginda berkata...
“Tentulah kalian mulia...kalian dekat denganku...kalian membantu perjuanganku... mana mungkin kalian tidak mulia...tentulah kalian mulia...tapi ada lagi yang lain yang mulia”
Para sahabat terdiam semuanya...mereka tidak mampu berkata apa-apa lagi...
Lalu tiba-tiba... Nabi Muhammad menundukkan wajahnya... baginda menangis di hadapan sahabat-sahabatnya...
Para sahabat tertanya-tanya...
“Mengapa kau menangis ya Rasulallah?”
Lalu baginda mengangkat wajahnya...terlihat bagaimana air mata berlinang membasahi pipi dan janggutnya...
“Tentulah kalian mulia...kalian dekat denganku...kalian membantu perjuanganku... mana mungkin kalian tidak mulia...tentulah kalian mulia...tapi ada lagi yang lain yang mulia”
Para sahabat terdiam semuanya...mereka tidak mampu berkata apa-apa lagi...
Lalu tiba-tiba... Nabi Muhammad menundukkan wajahnya... baginda menangis di hadapan sahabat-sahabatnya...
Para sahabat tertanya-tanya...
“Mengapa kau menangis ya Rasulallah?”
Lalu baginda mengangkat wajahnya...terlihat bagaimana air mata berlinang membasahi pipi dan janggutnya...
Baginda berkata...
“Wahai saudaraku... sahabatku... tahukah kalian siapa yang mulia itu... mereka adalah manusia-manusia... mereka akan lahir jauh setelah wafatku nanti...mereka begitu mencintai Allah...dan tahukah kalian...mereka tidak pernah memandangku...mereka tidak pernah melihat wajahku...mereka hidup tidak dekat dengan aku seperti kalian...tapi mereka begitu rindu kepada ku...dan saksikanlah wahai sahabatku semuanya...aku pun rindu kepada mereka...mereka yang mulia itu...merekalah UMMATKU”
Saat itu baginda menitiskan airmatanya...semua sahabat-sahabatnya menangis...
“Wahai saudaraku... sahabatku... tahukah kalian siapa yang mulia itu... mereka adalah manusia-manusia... mereka akan lahir jauh setelah wafatku nanti...mereka begitu mencintai Allah...dan tahukah kalian...mereka tidak pernah memandangku...mereka tidak pernah melihat wajahku...mereka hidup tidak dekat dengan aku seperti kalian...tapi mereka begitu rindu kepada ku...dan saksikanlah wahai sahabatku semuanya...aku pun rindu kepada mereka...mereka yang mulia itu...merekalah UMMATKU”
Saat itu baginda menitiskan airmatanya...semua sahabat-sahabatnya menangis...
Tanda Cinta
Rasulullah SAW bukan sahaja telah menyatakan bahkan baginda telah membuktikan bahawa kita mampu menyintai seseorang yang belum pernah kita kenal. Lalu bagaimana caranya?
"Apa tanda cinta kita kepada sahabat-sahabat kita? apa tanda seorang suami atau isteri menyintai pasangannya? apa tanda anak-anak cinta dan sayang kepada ibu bapanya?" soal Izan, teman yang saya baru kenal di bumi anbiya' ini.
"Adakah cukup dengan mengucapkan aku cinta padamu saban hari dan setiap detik waktu?" soal Izan lagi.
"Berkorban untuk mereka," jawab salah seorang dalam kalangan kami.
Izan tersenyum.
"Tanda kita cintakan kepada mereka yang berada di sekelililng kita adalah dengan mempertingkatkan kecintaan kita kepada ALalh dan RasulNya. Itulah sebesar-besar bukti yang kita cintak epada mereka di sekeliling kita," jawab Izan. bait-bait kalimah itu saya simpan kemas-kemas dalam kotak ingatan kerana kebenarannya tidak tersanggah lagi.
Bahkan itulah jawapan untuk soalan yang bermian-main di fikiran saya tatkala mendengar lagu I know I Love You Before I Meet You ini.
Ukurlah pasangan kamu berdasarkan dirimu kerana orang sekelilingmu juga menilai pasangan kamu dengan melihat peribadi dirimu.
Peliharalah diri moga-moga beroleh juga pasangan yang memelihara diri..,Insya-Allah.
Monday, September 27, 2010
Mesir dan Ceriteranya
Bismillahirrahmanirrahim...
"Menyesal datang mesir! Buruk! kalau tahu macam ini lebih baik aku belajar di Malaysia!" ujar seorang adik junior yang baru tiba di bumi kinanah ini.
"Astafgfirullah!" itu sahaja yang mampu saya ucapkan tatkala mendengar Zety mengulang kembali ucapan pelajar berkenaan.
Alhamdulillah. Saya tidak punya perasaan sedemikian ketika mula-mula sampai di sini. Barangkali semua itu terlah dikhabarkan awal-awal kepada saya.
"Muni terkejut tak tengok Mesir ini?" duga Asilah.
"Terkejut apa?" soal saya keliru.
"Terkejut dengan suasana 'bersih' di Mesir ini," lanjut Asilah. Saya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Habuk dan Mesir seakan-akan tidak boleh dipisahkan. Jelas kelihatan di cermin-cermin tingkap kedai dan rumah. Begitu juga pada badan kenderaan yang diparkir di pinggir jalan.
Bangunan-bangunannya pun kelihatan usang kerana habuk tebal yang menyelimutinya. Namun bangunan-bangunan ini cantik di mata saya. Mungkin kerana nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya. masjid-masjidnya. Gereja-gerejanya. Rumah-rumahnya.
Bukan itu sahaja, kenderaan-kenderaan di sini juga kelihatan 'antik' dan 'lama'.
"Boleh dikatakan setiap kenderaan di Mesir ini pasti menerima geselan kasih sayang," ujar Mahabbah. Saya tersenyum. Pada badan kenderaan terutamanya kereta-kereta yang meluncur di atas jalan kita akan dapatm elihat calar-calar atau bahagian-bahagian kemek. Hatta kereta baru sekalipun.
"Hon itu wajib dan brek itu sunat muaakad," seloroh Mahabah lagi.
Bunyi hon seumpama melodi semulajadi di sini.
"Eh tak dengar bunyi honlah pagi ini!" tegur saya usai solat Subuh.
"Memanglah sebab sekarang awal pagi," balas Mahabbah lagi.
itu satu baru satu sisi Mesir dan warganya yang dapat kita lihat.
Di sini juga bertaburan kuliah dan majlis ilmu. Satu sisi positif Mesir yang tiada tolok bandingnya.
Alhamdulillah saya sendiri berkesempatan untuk menghadiri kuliah minggu Syeikh Yusri di Masjid Al-Azhar. Kemudian saya menemani Mahabbah dan Kak Niena memperdengarkan bacaan kepada Syeikh Nabil.
Saya hanya transit di kaherah selama seminggu. Namun dalam masa seminggu ini banyak benda telah saya belajar. Macam-macam makanan juga telah saya cuba. koshairi, syawirma. syistowok, krib.. Hmm padanlah mereka yang tinggal di sini cepat naik berat badannya..=)
Siapa kita menentukan bagaimana kita melihat sesuatu perkara.
Setelah hampir seminggu berada di sini, saya masih seakan-akan bermimpi. Tidak sangka saya sudah benar-benar berada di sini.
Hari ini saya akan bertolak ke zagazig. Rumah sewa telah kami dapat. sewanya pun berpatutan yakni 500 genih sebulan., Empat bilik lengkap dengan perabot. Tapi apabila Najwa maklumkan kedudukan rumah. hampir tersembur air yang sedang saya minum. Hmm patutlah murah. Rumah kami di tingkat paling atas yakni tingkat tujuh tanpa kemudahan lif!
"Saya pernah kena ragut, jatuh dari bas, pasport hilang," ujar Zety.
Mahabbah yang baru setahun di sini pun mengalami pelbagai ujian. Dugaan yang pada saya tidak kecil. Subhanallah.
"Lebih baik awak balik ke Malaysia. Tinggal di sini buat membazir duit. Kuliah tak dapat masuk. Peperiksaan tak dapat ambil," ujar seorang pegawai kepada Mahabbah. Hancur luluh hatinya.
"Sekali kaki melangkah ke Mesir ini jangan pernah fikir untuk berpatah balik. Usahalah agar dapat menuntut ilmu dan belajar di sini walau dengan apa cara sekalipun," nasihat Prof Razali kepada Mahabbah. Kata-kata yang membuatkan Mahabbah terus bertahan dan natijahnya nanti kami akan sama-sama berada dalam satu kuliah di Zagazig. Alhamdulillah.
Saya kagum dengan kekuatan dan ketabahan hatinya. Inspirasi untuk saya meneruskan perjuangan di bumi ini.
Hampir semua yang pernah memijakkan kaki di bumi anbiya' ini menyimpan cerita dan kenangan sendiri. Berdebar-debar juga dada saya. Apa pula ujian dan dugaan yang bakal saya terima. Namun saya percaya mehnah dan tribulasi inilah yang membuatkan kembara ilmu mereka di sini bermakna dan indah.
"Masa HO nanti, kena tahan telinga. Kena banyak bersabar. Kata ibu, dalam tempoh ini ada sahaja doktor-doktor baru tidak dapat bertahan kerana dibuli dan dimarahi oleh doktor yang elbih senior," ujar saya pada mahabbah.
Mahabbah tersenyum.
"Rasanya doktor-doktor lulusan Mesir tiada masalah itu," balas Mahabbah sambil tersenyum. Saya menjugkitkan kening.
"Di sini puas dah kena marah dengan orang Arab sampai naik lali. Sampai telinga keballah," lanjut Mahabbah. Ketika itu saya baru saja sampai ke sini. Jadi saya tidak begitu faham maksud sahabat saya ini.
Namun setelah seminggu di sini, hmmm saya semakin jelas makna kata-katanya tempoh hari.
"Bekengnyo," tegur seorang sahabat sebaik sahaja dia bertanyakan kepada petugas di kedai buku berkenaan harga sebuah buku nota.
"Hmm, di mana-mana pun meme side-side dio lagu tu doh," jawab seorang sahabat lagi pasrah.
Di belakang saya menyembunyikan senyum sambil membisikkan di dalam hati, ujian dan dugaan di bumi ini kelak akan membuatkan saya sepasrah mereka...
"Menyesal datang mesir! Buruk! kalau tahu macam ini lebih baik aku belajar di Malaysia!" ujar seorang adik junior yang baru tiba di bumi kinanah ini.
"Astafgfirullah!" itu sahaja yang mampu saya ucapkan tatkala mendengar Zety mengulang kembali ucapan pelajar berkenaan.
Alhamdulillah. Saya tidak punya perasaan sedemikian ketika mula-mula sampai di sini. Barangkali semua itu terlah dikhabarkan awal-awal kepada saya.
"Muni terkejut tak tengok Mesir ini?" duga Asilah.
"Terkejut apa?" soal saya keliru.
"Terkejut dengan suasana 'bersih' di Mesir ini," lanjut Asilah. Saya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Habuk dan Mesir seakan-akan tidak boleh dipisahkan. Jelas kelihatan di cermin-cermin tingkap kedai dan rumah. Begitu juga pada badan kenderaan yang diparkir di pinggir jalan.
Bangunan-bangunannya pun kelihatan usang kerana habuk tebal yang menyelimutinya. Namun bangunan-bangunan ini cantik di mata saya. Mungkin kerana nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya. masjid-masjidnya. Gereja-gerejanya. Rumah-rumahnya.
Bukan itu sahaja, kenderaan-kenderaan di sini juga kelihatan 'antik' dan 'lama'.
"Boleh dikatakan setiap kenderaan di Mesir ini pasti menerima geselan kasih sayang," ujar Mahabbah. Saya tersenyum. Pada badan kenderaan terutamanya kereta-kereta yang meluncur di atas jalan kita akan dapatm elihat calar-calar atau bahagian-bahagian kemek. Hatta kereta baru sekalipun.
"Hon itu wajib dan brek itu sunat muaakad," seloroh Mahabah lagi.
Bunyi hon seumpama melodi semulajadi di sini.
"Eh tak dengar bunyi honlah pagi ini!" tegur saya usai solat Subuh.
"Memanglah sebab sekarang awal pagi," balas Mahabbah lagi.
itu satu baru satu sisi Mesir dan warganya yang dapat kita lihat.
Di sini juga bertaburan kuliah dan majlis ilmu. Satu sisi positif Mesir yang tiada tolok bandingnya.
Alhamdulillah saya sendiri berkesempatan untuk menghadiri kuliah minggu Syeikh Yusri di Masjid Al-Azhar. Kemudian saya menemani Mahabbah dan Kak Niena memperdengarkan bacaan kepada Syeikh Nabil.
Saya hanya transit di kaherah selama seminggu. Namun dalam masa seminggu ini banyak benda telah saya belajar. Macam-macam makanan juga telah saya cuba. koshairi, syawirma. syistowok, krib.. Hmm padanlah mereka yang tinggal di sini cepat naik berat badannya..=)
Siapa kita menentukan bagaimana kita melihat sesuatu perkara.
Setelah hampir seminggu berada di sini, saya masih seakan-akan bermimpi. Tidak sangka saya sudah benar-benar berada di sini.
Hari ini saya akan bertolak ke zagazig. Rumah sewa telah kami dapat. sewanya pun berpatutan yakni 500 genih sebulan., Empat bilik lengkap dengan perabot. Tapi apabila Najwa maklumkan kedudukan rumah. hampir tersembur air yang sedang saya minum. Hmm patutlah murah. Rumah kami di tingkat paling atas yakni tingkat tujuh tanpa kemudahan lif!
"Saya pernah kena ragut, jatuh dari bas, pasport hilang," ujar Zety.
Mahabbah yang baru setahun di sini pun mengalami pelbagai ujian. Dugaan yang pada saya tidak kecil. Subhanallah.
"Lebih baik awak balik ke Malaysia. Tinggal di sini buat membazir duit. Kuliah tak dapat masuk. Peperiksaan tak dapat ambil," ujar seorang pegawai kepada Mahabbah. Hancur luluh hatinya.
"Sekali kaki melangkah ke Mesir ini jangan pernah fikir untuk berpatah balik. Usahalah agar dapat menuntut ilmu dan belajar di sini walau dengan apa cara sekalipun," nasihat Prof Razali kepada Mahabbah. Kata-kata yang membuatkan Mahabbah terus bertahan dan natijahnya nanti kami akan sama-sama berada dalam satu kuliah di Zagazig. Alhamdulillah.
Saya kagum dengan kekuatan dan ketabahan hatinya. Inspirasi untuk saya meneruskan perjuangan di bumi ini.
Hampir semua yang pernah memijakkan kaki di bumi anbiya' ini menyimpan cerita dan kenangan sendiri. Berdebar-debar juga dada saya. Apa pula ujian dan dugaan yang bakal saya terima. Namun saya percaya mehnah dan tribulasi inilah yang membuatkan kembara ilmu mereka di sini bermakna dan indah.
"Masa HO nanti, kena tahan telinga. Kena banyak bersabar. Kata ibu, dalam tempoh ini ada sahaja doktor-doktor baru tidak dapat bertahan kerana dibuli dan dimarahi oleh doktor yang elbih senior," ujar saya pada mahabbah.
Mahabbah tersenyum.
"Rasanya doktor-doktor lulusan Mesir tiada masalah itu," balas Mahabbah sambil tersenyum. Saya menjugkitkan kening.
"Di sini puas dah kena marah dengan orang Arab sampai naik lali. Sampai telinga keballah," lanjut Mahabbah. Ketika itu saya baru saja sampai ke sini. Jadi saya tidak begitu faham maksud sahabat saya ini.
Namun setelah seminggu di sini, hmmm saya semakin jelas makna kata-katanya tempoh hari.
"Bekengnyo," tegur seorang sahabat sebaik sahaja dia bertanyakan kepada petugas di kedai buku berkenaan harga sebuah buku nota.
"Hmm, di mana-mana pun meme side-side dio lagu tu doh," jawab seorang sahabat lagi pasrah.
Di belakang saya menyembunyikan senyum sambil membisikkan di dalam hati, ujian dan dugaan di bumi ini kelak akan membuatkan saya sepasrah mereka...
Wednesday, September 22, 2010
Antara Dia dan Saya
Bismillahirrahmanirrahim...
Alhamdullilah, kaki ini sudah menapak di bumi anbiya. Sekarang sedang berlegar -legar di bandar Nabi Yusuf dan Zulaikha dikatakan bertemu yakni bandar Zagazig. ( ada yang kata di Bilbis).
Sebelum bertolak, saya sempat berbual seketika dengan ustaz di Facebook.
"Anak saya juga belajar di Mesir. Ambil Usuluddin. Sudah setahun dia di sana. Dia pergi lewat sikit sebab dia kumpul duit dulu sebelum ke sana,"
"Tahun ini dia tak balik. Saya yang tak bagi balik. Jadi dia pergi bertalaqqi dan buat umrah. Sekarang dia masih di Madinah,"
"Anak saya ini memang sangat cintakan ilmu. merata dia pergi belajar. Di pernah belajar di Patani yakni di Jamiat Islamiah Syeikh Daud Al-Fathoni. Kemudian dia belajar Bahasa Arab dengan seorang Ustaz Shaari. Selepas itu dia ambil STAM. Dia dapat jaid jiddan,"
"Dalam tempoh belajar di Malaysia dulu, dia mengajar juga hujung minggu. Mengajar Bahasa Arab. Pendapatan dia itu, dia simpan sikit-sikit. dengan duit mengajar dan menjual kuih itulah dia pernah ke Mesir. Alhamdulillah, rezeki dia murah. Ada orang yang bermurah hati juga memberi dia sumbangan zakat,"
"Saya tak keluar satu sen pun untuk hantar belajar di Mesir. Dia lahir tahun 1984."
"Di Mesir dia jual nasi lemak untuk sara hidup di sana. Pendapatannya pun alhamdulillah,"
Ya Allah, saya benar-benar kagum. Dalam pada masa yang sama saya malu. Teringat Kang Azam dalam cerita Ketika Cinta Bertasbih.
Anak ustaz ini benar-benar berdikari.
Jauh bezanya dia dengan saya.
Saya datang ke Mesir dengan keringat dan air mata ibubapa. Sedihnya. Kasihan ibu dan ayah.
Perbualan ringkas itu memang benar-benar mengesan di hati. Tiada alasan untuk tidak bersungguh-sungguh belajar. Tidak sabar menunggu kuliah bermula.
Justeru, ruang dan peluang menuntun ilmu di bumi anbiya ini akan saya manfaatkan sebaiknya. Insya-Allah...
Alhamdullilah, kaki ini sudah menapak di bumi anbiya. Sekarang sedang berlegar -legar di bandar Nabi Yusuf dan Zulaikha dikatakan bertemu yakni bandar Zagazig. ( ada yang kata di Bilbis).
Sebelum bertolak, saya sempat berbual seketika dengan ustaz di Facebook.
"Anak saya juga belajar di Mesir. Ambil Usuluddin. Sudah setahun dia di sana. Dia pergi lewat sikit sebab dia kumpul duit dulu sebelum ke sana,"
"Tahun ini dia tak balik. Saya yang tak bagi balik. Jadi dia pergi bertalaqqi dan buat umrah. Sekarang dia masih di Madinah,"
"Anak saya ini memang sangat cintakan ilmu. merata dia pergi belajar. Di pernah belajar di Patani yakni di Jamiat Islamiah Syeikh Daud Al-Fathoni. Kemudian dia belajar Bahasa Arab dengan seorang Ustaz Shaari. Selepas itu dia ambil STAM. Dia dapat jaid jiddan,"
"Dalam tempoh belajar di Malaysia dulu, dia mengajar juga hujung minggu. Mengajar Bahasa Arab. Pendapatan dia itu, dia simpan sikit-sikit. dengan duit mengajar dan menjual kuih itulah dia pernah ke Mesir. Alhamdulillah, rezeki dia murah. Ada orang yang bermurah hati juga memberi dia sumbangan zakat,"
"Saya tak keluar satu sen pun untuk hantar belajar di Mesir. Dia lahir tahun 1984."
"Di Mesir dia jual nasi lemak untuk sara hidup di sana. Pendapatannya pun alhamdulillah,"
Ya Allah, saya benar-benar kagum. Dalam pada masa yang sama saya malu. Teringat Kang Azam dalam cerita Ketika Cinta Bertasbih.
Anak ustaz ini benar-benar berdikari.
Jauh bezanya dia dengan saya.
Saya datang ke Mesir dengan keringat dan air mata ibubapa. Sedihnya. Kasihan ibu dan ayah.
Perbualan ringkas itu memang benar-benar mengesan di hati. Tiada alasan untuk tidak bersungguh-sungguh belajar. Tidak sabar menunggu kuliah bermula.
Justeru, ruang dan peluang menuntun ilmu di bumi anbiya ini akan saya manfaatkan sebaiknya. Insya-Allah...
Saturday, September 18, 2010
Persiapan Menjadi Ibu
Bismillahirrahmanirrahim..


Mak Long saya lahirkan anak lagi.
"Ini yang terakhir," katanya. Cukup anaknya lima orang. Saya sukakan budak-budak. Tapi saya jarang main dengan budak-budak macam mana saya main dengan anak-anak Mak Long. Kalau dengan budak-budak lain saya agak kaku. Tak begitu pandai mengacah. Biasanya, busak yang senyap saya dukung akan menangis. Sebab saya tak main-main atau acah dia..hihi. Tapi dengan anak-anak mak long lain.
Hmm..perasaan itu tiba-tiba menyelinap. Saya mahu menjadi ibu. Segera menjadi ibu dan punya anak sendiri..=)
Sebenarnya apabila fikir soal kahwin saya sedikit takut. Takut dimadukan.hihi. Entah mengapa setiap kali fikir tentang kahwin perasaan itu mesti datang membuatkan saya takut nak kahwin. Bila tengok baby dan anak-anak kecil, baru reda sikit perasaan itu.Hihi. kelakar betul.
Sebelum raya tempoh hari, anak abang Amir dan Kak Teh jatuh dari babbywalker. Kesian kat Hakim. Terpaksa mereka beraya di Hospital Manjung.
"Tak apa. Walaupun luka sikit-sikit masih hensem lagi..," kata Kak Fatin.
Rupa-rupanya, dalam kalangan kami ada saja yang tahu yang babywalker ini tak baik untuk kanak-kanak.
"memang tak digalakkan pun guna babywalker. di Kanada dah diharamkan. antara sebabnya membantut perkembangan minda dan kekuatan otot bayi. bayi patut belajar bertatih dengan sendiri," komen seorang teman di Facebook.
"..baby walker nie sbnarnya dari segi physiotraphy dlm kanak2 mmg xbgus..sbb kanak2 tu sbnarnya belum capai tahap utk berjln tp di beri babywalker...kesan jangka panjang,selalunya kanak2 yg diberi babywalker sblum sampai waktunya tidak boleh berlari pantas apabila dewasa..ini fakta tau..bkn auta...:)" komen seorang teman lagi.
Hmm..
"Awat hampa tak bagitau kat abang amir dan kak teh masa tengok budak tu seronok main babywalker ke san ke sini?" kata hati saya. hihi. Mungkin ada hikmahnya.
Teringat pesanan seorang senior saya.
"Orang-orang macam kita ini kadang kala tumpu perhatian pada perkembangan rohani anak-anak saja. Misalnya ambil tahu tentang doa-doa dan amalan semasa mengandung. Tapi jarang -jarang ambil tahu bagaimana hendak membantu perkembangan mental dan fizikal anak-anak. Kat tempat akak kerja ramai yang tak tahu macam mana hendak pastikan susu badan sentiasa kekal ada. Terutamanya ustazah-ustazahlah. Mungkin bagi sesetengah kita benda ini tak penting. Sebenarnya ada caranya," ujarnya.
Saya mengangguk-anggukkan kepala. Untung juga berkawan dengan orang yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak-anak ini. Boleh belajar serba sedikit..=)
"Kak Munirah nak buat apa dengan maklumat itu?" soal seorang junior ketika saya tanya di mana dia dapatkan fakta-fakta tentang babywalker itu.
"Nak ambil tahulah," jawab saya.
"Belajar sebelum ada anak lagi. lagi baik sebelum kahwin. Kalau masa mengandung baru nak baca dan belajar itu dan ini, nanti kalut. Di tambah dengan tekanan kerja/belajar lagi. Tekanan alah itu dan ini. Ramai ibu-ibu menghadapi masalah tentang susu badan yang tidak mahu keluar semasa fatrah menyusu," lanjut senior saya lagi.
Jadi, jom lengkapkan persediaan sebelum menjadi ibu..=)
p/s: sedang mengulit buku CATATAN HATI BUNDA oleh Asma Nadia. Bertambah-tambah rasa mahu menjadi ibu.
Friday, September 17, 2010
Memoir Anak Setinggan
Bismillahirrahmanirrahim...
Saya keluar beli novel Abang Nuar ni selepas solat Jumaat (minta ayah tolong hantarkan ke kedai buku) dan saya tamat membacanya pada pukul 12.30 malam hari yang sama.
Saya baca novel ini dengan perasaan tidak mahu terlepas walau satu pun bait-bait perkataannya. Sangat mengesan di jiwa. Setiap bait kata-katanya tidak kosong sebaliknya sarat dengan pengajaran.
Bagi mereka yang ingin mendalami dan menjiwai perasaan sebahagian mereka yang menjadi anggota masyarakat kita hari ini, silalah ulit buku ini.
Pada saya Abang Nuar berjaya menyampaikan mesejnya dalam bentuk yang cukup santai.
Ringkas tapi padat dan berisi.
Kalau kalian tidak ketawa sampai berguling-guling sekalipun, setidak-tidaknya kalian akan tersenyum sambil menanmpakkan semua barisan gigi tatkala membacanya. Gelagat budak-budak comel yakni Nuar, Mamat dan Bain cukup mencuit hati.
Ini sinopsisnya :
Melalui kaca mata Nuar, bersama dengan dua orang teman baiknya, Mamat dan Bain, kemiskinan serta penderitaan ditertawakan. Mereka berada di tengah-tengah tarik tali kehidupan antara pemerintah dengan penduduk setinggan, pembangunan materi yang pincang dengan pembangunan jiwa yang menyeluruh. Di satu sudut cita-cita mereka dibangunkan namun pada masa yang sama dibunuh oleh sistem yang keliru tumpuan dan matlamat. Nuar, Mamat dan Bain kanak-kanak yang polos, nakal dan serba mungkin. Di taman kehidupan di ‘Sting Garden’, mereka membesar bersama kanak-kanak lain dan membina peribadi masing-masing. Menelusuri pengalaman kanak-kanak mereka tidak terhenti setakat melaga ayam dan spider tetapi turut mengulit sama perjuangan ibu bapa, budaya masyarakat dan sistem berat sebelah yang hanya menjadikan yang kaya bertambah kaya sementara yang miskin bertambah miskin. ‘Sting Garden’ dicoret dengan perasaan seorang kanak-kanak menjadikannya lucu, mengharukan dan ‘basah’ untuk dibaca.
Jangan lepaskan peluang untuk mendapatkan novel ini!
p/s : Usai membaca novel ini timbul satu tajuk novel baru dalam kepala; Memoir Anak Patani..hihi.. Ok tak?
Saya keluar beli novel Abang Nuar ni selepas solat Jumaat (minta ayah tolong hantarkan ke kedai buku) dan saya tamat membacanya pada pukul 12.30 malam hari yang sama.Saya baca novel ini dengan perasaan tidak mahu terlepas walau satu pun bait-bait perkataannya. Sangat mengesan di jiwa. Setiap bait kata-katanya tidak kosong sebaliknya sarat dengan pengajaran.
Bagi mereka yang ingin mendalami dan menjiwai perasaan sebahagian mereka yang menjadi anggota masyarakat kita hari ini, silalah ulit buku ini.
Pada saya Abang Nuar berjaya menyampaikan mesejnya dalam bentuk yang cukup santai.
Ringkas tapi padat dan berisi.
Kalau kalian tidak ketawa sampai berguling-guling sekalipun, setidak-tidaknya kalian akan tersenyum sambil menanmpakkan semua barisan gigi tatkala membacanya. Gelagat budak-budak comel yakni Nuar, Mamat dan Bain cukup mencuit hati.
Ini sinopsisnya :
Melalui kaca mata Nuar, bersama dengan dua orang teman baiknya, Mamat dan Bain, kemiskinan serta penderitaan ditertawakan. Mereka berada di tengah-tengah tarik tali kehidupan antara pemerintah dengan penduduk setinggan, pembangunan materi yang pincang dengan pembangunan jiwa yang menyeluruh. Di satu sudut cita-cita mereka dibangunkan namun pada masa yang sama dibunuh oleh sistem yang keliru tumpuan dan matlamat. Nuar, Mamat dan Bain kanak-kanak yang polos, nakal dan serba mungkin. Di taman kehidupan di ‘Sting Garden’, mereka membesar bersama kanak-kanak lain dan membina peribadi masing-masing. Menelusuri pengalaman kanak-kanak mereka tidak terhenti setakat melaga ayam dan spider tetapi turut mengulit sama perjuangan ibu bapa, budaya masyarakat dan sistem berat sebelah yang hanya menjadikan yang kaya bertambah kaya sementara yang miskin bertambah miskin. ‘Sting Garden’ dicoret dengan perasaan seorang kanak-kanak menjadikannya lucu, mengharukan dan ‘basah’ untuk dibaca.
Jangan lepaskan peluang untuk mendapatkan novel ini!
p/s : Usai membaca novel ini timbul satu tajuk novel baru dalam kepala; Memoir Anak Patani..hihi.. Ok tak?
Subscribe to:
Posts (Atom)